Prolog
Seorang yang menamakan dirinya Kristen belum tentu dalam perilakunya mencerminkan Kekristenan. Sebut saja pelaku bisnis narkoba, pornografi, pemalsuan, penipuan dan banyak lagi jenisnya yang tidak mungkin kita sebutkan satu persatu. Dan skalanya-pun bervariasi dari skala kelas “teri” sampai skala “ikan paus raksasa!”
Kamus Merriam Webster memberikan definisi “Christianity” sebagai berikut:
1 : the religion derived from Jesus Christ, based on the Bible as sacred scripture, and professed by Eastern, Roman Catholic, and Protestant bodies
2 : conformity to the Christian religion
3 : the practice of Christianity
Ketika Kristus bertahta dalam hati kita, maka pemikiran, tindakan dan kata-kata kita sepatutnya mencerminkan Kekristenan secara utuh. Perilaku, tindakan, pemikiran merupakan pencerminan dari iman yang ada dalam hati orang yang bersangkutan, “outward actions reflect inward faith.”
Selaku orang percaya, beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita bertanya bagaimana seharusnya kita menempatkan diri ditengah-tengah dunia ini, khususnya di “marketplace” dimana kita berada atau berkecimpung.
Yang juga kerap menjadi pertanyaan dan tantangan bahkan menjadi kekhawatiran adalah: Seperti apa dan bagaimana menerapkan Kekristenan (keimanan- abstrak) dalam bisnis (praktek – fakta)?
Dengan menerapkan Kekristenan, apakah perusahaan kita dapat bertahan, memperoleh keuntungan dan tumbuh berkembang?
Istilah “marketplace” menyiratkan sebuah tempat atau area dimana hadir ketiga unsur saling terkait: Bisnis, Pemerintahan dan Pendidikan. Oleh karena itu tulisan ini tidak hanya berbicara kepada dunia bisnis namun ditujukan kepada ketiganya
I. Berpegang kepada Firman Tuhan dan Mengandalkan Tuhan
Tuhan Yesus berkata:
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Matius 7: 24 – 27)
Raja Daud terlebih dahulu juga mengatakan:
“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.(Mazmur 1: 1 – 3)
Alkitab yang adalah Firman Tuhan; merupakan sebuah pedoman yang sempurna bagi seluruh jalan kehidupan dan perilaku manusia termasuk dalam berbisnis. Oleh karena itu Alkitab harus menjadi pegangan yang pertama dan terutama. Setiap instruksi, petunjuk, teori yang datang kepada kita harus diacu dengan Alkitab. Apabila itu bertentangan dengan Alkitab, maka betapapun kelihatannya baik, harus kita hindarkan.
“Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku. Keluarlah dari Babel, larilah dari Kasdim! Beritahukanlah dengan suara sorak-sorai dan kabarkanlah hal ini! Siarkanlah itu sampai ke ujung bumi! Katakanlah: “TUHAN telah menebus Yakub, hamba-Nya!” (Yesaya 48: 17 – 20)
Tuhan sendiri yang sebetulnya mengajar kita melalui Firman-Nya, menuntun yang harus kita perbuat dalam berbisnis dengan benar dan tetap mendatangkan keuntungan, serta tumbuh berkembang
Rasul Paulus menasihati jemaat di Kolose dan kita:
“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (Kolose 2: 8)
Dunia sedang mengelabui kita dengan filsafat yang kelihatannya berisi, nampak bijak namun pada akhirnya kosong dan menimbulkan kekecewaan bahkan tidak sedikit bencana.
Guru-guru teori kemakmuran, quick-fix, bagaimana menjadi kaya dengan mudah-dan cepat menjamur dimana-mana dan telah dijadikan “idol” oleh banyak orang termasuk anak-anak Tuhan. Apa saja yang diucapkan para guru-guru tersebut seakan sudah menjadi firman yang “ya dan amin.” Mereka lebih percaya guru-guru tersebut katimbang Alkitab. Dukun, peramal dan paranormal tradisionil-pun tidak mau kalah dengan melakukan kegiatan promosi yang semakin canggih melalui media televisi dan radio dan juga memanfaatkan sarana telepon selular.
Sebuah peringatan keras Firman Tuhan bagi mereka yang mengandalkan manusia termasuk diri sendiri:
“Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17: 5 – 8)
Berpegang kepada Firman Tuhan dan mengandalkan Tuhan adalah kiat pertama agar kita berhasil dalam bisnis kita dan di “marketplace”
II. Transformasi hati dan pikiran
Tuhan mempunyai rancangan (rencana) atas setiap orang tanpa memandang muka maupun kedudukan dan rancangan-Nya adalah demi kebaikan manusia:
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29: 11)
Sungguh sebuah janji Tuhan yang indah bagi kita bukan? Namun anda bertanya bagaimana kita dapat mengetahui bahwa yang kita jalani dalam hidup ini adalah dalam rancangan Tuhan bagi kita? Apalagi Tuhan berkata:
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55: 8 – 9)
Rasul Paulus membantu kita mengungkap rahasia untuk dapat mengetahui dan mengerti kehendak dan rancangan Tuhan dalam hidup kita:
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12: 1 – 3)
Rasul Paulus dengan pewahyuan yang diterimanya dari Roh Kudus mengajar agar kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang kudus dan pada saat yang sama dengan kuasa Firman dan pertolongan Roh Kudus kita memperbaharui hati dan pikiran kita selaras dengan kehendak Tuhan melalui Firman-Nya. Setelah kita berhasil mentransformasi diri maka akan lebih mudah bagi kita mengetahui dan mengerti kehendak Tuhan bagi dan dalam hidup kita.
Ketika rancangan Tuhan menjadi rancangan kita, maka kita berjalan dalam kemantapan dan dengan perasaan damai sejahtera sekalipun keadaan sekeliling penuh dengan gejolak dan ketidak-pastian.
Mempersembahkan tubuh, serta memperbaharui budi (hati dan pikiran) kita. Inilah yang disebut transformasi diri, yang menjadi kiat yang kedua untuk kita berhasil dalam bisnis dan pekerjaan kita.
III. Menjadi Garam dan Terang Dunia
Keberadaan kita di “marketplace” baik dalam skala kecil maupun besar menjadi perhatian orang. Semakin besar bisnis kita atau semakin tinggi kedudukan kita akan semakin menjadi sorotan orang lain. Pepatah mengatakan ‘semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menderanya.’
Berbicara bisnis dan marketplace sesungguhnya kita berbicara tentang manusia, orang-orang yang ada di dalamnya. Dan ketika kita berbicara tentang manusia maka kita berbicara tentang perilaku manusia dan hubungan satu dengan yang lain. Perilaku baik mengundang kekaguman dan banyak orang ingin menirunya, sedangkan perilaku yang buruk apalagi jahat akan mengundang cemoohan dan pengucilan.
Memang karena dunia dalam kuasa dan cengkraman si Jahat, pemutar-balikkan fakta atau opini menjadi hal yang terbiasa. Yang hitam dibilang putih; yang putih dibilang hitam, tergantung siapa yang berbicara; biasanya yang kaya dan berkuasa menguasai yang miskin dan yang lemah.
Tuhan Yesus berkata:
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5: 13 – 18)
Kita harus memperlihatkan kebaikan dan kebenaran kita selaku anak-anak Tuhan. Kita harus berani melawan atau menentang ketidak-benaran, ketidak-adilan, dengan cara yang bijaksana dan taktis. Intinya kita harus berani menyatakan kebenaran, dan itu sebagai salah satu ciri Kekristenan kita. Resiko tentu ada, entah itu pengucilan ataupun fitnah yang jahat untuk menjatuhkan kita. Namun jangan sekali-kali kita berkompromi dengan menjual Kekristenan kita untuk sesuap nasi seperti Esau menjual hak kesulungan untuk semangkuk kacang merah!
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7: 13 – 14)
Perilaku dan tindakan mana saja yang dapat merefleksikan Kekristenan kita sebagai Terang dan Garam dunia? Kita mengambil yang mempunyai dampak kuat dan luas
a. Memelihara etika Kristiani kita seperti yang dirangkum dalam Firman Tuhan ini:
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7: 12)
Ini adalah standar etika yang sangat sederhana namun sangat “powerful.” Ketika anda menginginkan orang lain memberi atau menjual produk bermutu, maka andapun harus memproduksi atau menjual produk yang bermutu. Ketika anda menginginkan orang lain menjual kepada anda service yang baik, maka andapun harus memberikan service yang baik kepada orang lain. Ketika anda menginginkan orang lain menjual produk dengan timbangan yang benar (termasuk keasliannya), maka andapun harus menjual produk yang benar timbangannya. Ketika anda menginginkan orang lain berbuat jujur, maka andapun harus jujur terhadap orang lain.
Kita menginginkan segala yang baik dari orang lain, maka berikanlah kepada orang lain yang baik bahkan terbaik. Anda ingin orang lain membayar hutang anda maka bayarlah hutang anda kepada orang lain, dan seterusnya. Banyak perusahaan yang terguling dan akhirnya lenyap oleh karena mereka tidak menjaga etika yang benar, walau dalam visi dan misi dituangkan secara muluk-muluk, namun dalam prakteknya sangat menyimpang sehingga kehilangan kredibilitas.
b. Menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama melalui bisnis atau pekerjaan kita
“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22: 34 – 40)
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang menolak kasih yang diberikan kepadanya dengan tulus. Pertimbangan ini akan mempengaruhi setiap kebijaksanaan kita terhadap orang lain yang terkait dengan bisnis dan pekerjaan kita, baik itu rekan sekerja, atasan maupun bawahan dan lebih luas lagi: pelanggan, bankir, distributor, supplier, dan semua stakeholders lainnya bahkan termasuk pesaing.
Kita mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama karena itu perintah-Nya. Kita menyenangkan hati Tuhan dengan mematuhi dan melaksanakan keinginan dan perintah-Nya. Kasih yang tulus dapat dibedakan dengan kasih yang semu yang biasa dilakukan orang dengan tujuan tertentu dan tidak jarang untuk menipu. Penipuan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar bahkan raksasa di berbagai belahan dunia dan pengrusakan hutan di negeri kita ini karena mereka yang berada di belakang perusahaan adalah para pengambil keputusan yang tidak memiliki kasih yang Tuhan Yesus masudkan.
Kasih mendorong untuk kita selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tidak ingin merugikan orang lain atau pihak manapun yang terkait
c. Mematuhi pemerintah termasuk membayar pajak dengan benar
“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. (Roma 13: 1 – 7)
Pemerintah adalah bagian dari marketplace yang tak terpisahkan. Jika pemerintahan kuat, negara aman, maka bisnis dan ekonomi-pun berjalan lancar dan bertumbuh. Sebaliknya jika pemerintahan lemah, negara lemah, politik tidak menentu akan mempengaruhi bisnis dan ekonomi menjadi stagnan bahkan mundur. Lalu bagaimana membuat pemerintahan dan negara kuat?
Dimulai dari diri kita, bisnis kita, perusahaan kita dengan melakukan kewajiban kita dengan benar.
Jangan bercermin kepada mereka yang berperilaku tidak benar dan jangan menuntut dari orang lain termasuk pemerintah sebelum kita melakukan hal yang benar:
“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Lukas 6: 42)
d. Meneruskan Berkat Abraham; menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa
“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12: 1 – 3)
“Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3: 14)
Berkat Abraham adalah janji Tuhan kepada Abraham yang tidak dapat dibatalkan dan terikat dalam kekekalan (eternal covenant) dan berlaku turun temurun bagi mereka yang ada dalam Yesus Kristus. Berkat ini bermutiplikasi dan menjengkau bangsa-bangsa di seluruh dunia. Dalam berkat Abraham ini tercakup juga berkat materi yang diperoleh melalui bisnis dan pekerjaan kita. Ketika kita menyadari fungsi bisnis dan pekerjaan kita sebagai saluran berkat Abraham bagi bangsa-bangsa termasuk bangsa Indonesia yang kita cintai ini, maka Tuhan akan memperbesar kapasitas kita agar kita menjadi penyalur berkat dan dengan demikian banyak orang mengenal ‘kebaikan’ Tuhan melalui kita; bisnis dan pekerjaan kita, sehingga Tuhan dipermuliakan.
Menjadi Garam dan Terang dunia adalah kiat ketiga untuk berhasil dalam bisnis atau pekerjaan kita.
IV. Memiliki Tanggung Jawab dan Memberikan Pertanggung-jawaban
“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Matius 25: 14 – 30)
Perumpamaan talenta diatas merupakan sebuah pencerminan atau contoh tanggung jawab dan pertanggung-jawaban yang benar. Perumpamaan ini sangat relevan menunjuk kepada setiap orang yang berkecimpung dalam dunia bisnis, dan di marketplace. Setiap kita pasti dan akan diberi tanggung jawab sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Tugas kita adalah untuk mengelolanya dengan sepenuh hati sehingga dapat menghasilkan paling tidak dua kali lipat. Dan kita harus siap sedia ketika diminta pertanggung-jawaban. Dengan penuh sukacita kita menanti dan siap menghadap tuan kita, Tuhan Yesus, dengan hasil kerja kita. Pujian dan reward akan kita terima dari sang tuan.
Perumpamaan ini juga memperjelas bahwa apa yang kita perbuat selama di dunia, berdampak terhadap kekekalan.
Kiat keempat, memiliki rasa tanggung jawab dan siap memberikan pertanggung-jawaban.
V. Cerdik dan Waspada
Dalam kita berbisnis, kita perlu tetap hati-hati oleh karena marketplace yang dikuasai oleh sistim yang dikendalikan oleh penguasa dunia, si Iblis, yang penuh dengan tipu daya, siap menerkam dan menjebak kita jika lengah:
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5: 8)
Oleh karena itu Tuhan Yesus juga memberikan pesan kepada murid-murid-Nya agar selalu berhati-hati dan berlaku cerdik ketika DIA melepas mereka dalam tugas:
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10: 16)
Dalam ketulusan tetap berlaku cerdik agar tidak tertipu; tidak termakan oleh serigala berbulu domba yang memanfaatkan kebaikan dan ketulusan hati kita. Enough is enough!
Namun dalam konteks lain “cerdik” juga mengandung pengertian “pandai memanfaatkan peluang” terlebih dalam bisnis karena biasanya seperti pepatah mengatakan “kesempatan jarang datang dua kali”
“Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.” (Lukas 16: 8)
Dalam setiap keadaan yang chaos sekalipun selalu ada peluang untuk bisnis. Contohnya ketika sulit memperoleh air bersih maka produsen air minum dalam kemasan (AMDK) justeru omzetnya berlipat ganda. Ketika terjadi gempa bumi, rumah banyak yang rusak dan hancur, maka toko bangunan justeru panen. Ketika terjadi kelaparan dimana-mana, maka penjual makanan (dengan harga ekonomis) baik dalam kemasan maupun berupa olahan segar memiliki peluang baik dengan menjual langsung maupun menjual kepada para donatur yang selanjutnya membagikannya secara cuma-Cuma kepada orang-orang yang berada dibawah garis kemiskinan.
Tak ketinggalam dalam dunia pendidikan, dengan memanfaatkan teknologi informasi (internet) dapat menjengkau para murid yang berada di kota-kota kecil dan desa, maka bisnis warnet-pun bertumbuh menjamur. Itu hanya sekedar contoh.
Kiat yang kelima, Cerdik dan waspada!
Sekarang marilah kita melangkah ke pengenalan akan cara Tuhan memberkati kita.
VI. Mengenal Cara Tuhan memberkati bisnis kita
Sesuai dengan janji-Nya Tuhan akan memberkati kita ketika kita dengan setia dan patuh melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ada beratus bahkan beribu cara bagiTuhan untuk memberkati kita. Beberapa ciri diantaranya yang kita lihat dari contoh-contoh dalam Alkitab adalah:
a. Timely
Pertolongan dan berkat Tuhan diberikan pada waktu-Nya (Kairos – genap waktu Tuhan yang sempurna). Bukan sesuai dengan keinginan dan waktu kita. Tuhan yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat bagi kita menerima berkat itu. Ketika tiba waktu-Nya maka segala sesuatu seakan menjadi begitu mudahnya terjadi, terealisasi setelah sekian lama kita tunggu dan doakan. Tugas kita adalah berdoa dan berbuat yang terbaik dan dengan tekun. Ora et Labora, berdoa dan bekerja harus sama kerasnya; sama tekun-nya. Bagian Tuhanlah nanti pada waktu-Nya memberikan yang terbaik untuk kita.
b. Multiplikasi
Ketika Tuhan berkenan, maka berkat yang kita terima bukan lagi merupakan penambahan secara linear, namun bersifat multiplikasi. Berlipat-ganda. Kita ingat bagaimana 5 roti dan 2 ikan yang dapat mengenyangkan sedikitnya 10.000 orang dan masih tersisa puluhan bakul (Matius 14 & 15), dan bagaimana Petrus ketika menebar jala semalaman penuh tanpa hasil namun ketika mereka patuh akan perintah Tuhan Yesus, sekian ratus ikan masuk dalam jalanya sampai koyak dan harus ditarik dengan bantuan kawan-kawannya (Lukas 5: 5 – 6).
c. By surprise
Unsur surprise rupanya bagian strategi Tuhan untuk menyenangkan anak-anak yang patuh kepada-Nya. Yusuf dalam seketika berubah nasibnya dari seorang narapidana menjadi Perdana Menteri negara Mesir, orang nomor 2 berkuasa di negeri itu setelah Firaun. Tuhan memberikan hikmat kepada Yusuf untuk menjabarkan mimpi Firaun yang datangnya dari Tuhan juga. Dan bagaimana dengan Mordekhai? Dari seorang rakyat jelata, orang Yahudi buangan di negeri Persia, mendadak berubah nasibnya menjadi Perdana Menteri juga dari Maharaja Ahasyweros yang luas negaranya terbentang dari India sampai Etiopia, ada 127 propinsi (Ester 1:1). Hanya karena ia pernah memberitahukan adanya komplotan yang akan membunuh raja dan ternyata terbukti. Tuhan menyertai Mordekhai!
VII. Membawa Misi Amanat Agung
Seluruh umat Tuhan mendapat tugas untuk menyelamatkan dunia, orang-orang yang belum diselamatkan, memberitakan Injil kepada mereka:
“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28: 18 – 20)
Berbeda dengan gereja yang memiliki keterbatasan dalam menembus semua lapisan masyarakat, maka bagi bisnis nyaris tidak ada hambatan, pintu akan selalu terbuka lebar, kemana-pun, dimana-pun selalu di-welcome. Kita dapat melaksanakan Amanat AGung melalui bisnis dan pekerjaan kita baik secara langsung maupun tidak langsung:
a. Langsung
Pemberitaan Injil melalui doa, kesaksian, brosur, leaflet yang dibagikan kepada supplier, distributor, banker, asuransi dan banyak pihak terkait dengan bisnis kita. Pemberitaan Injil yang dikemas demikian rupa, tidak frontal membabi-buta, namun mengena.
b. Tidak langsung
Banyak perusahaan yang mengalokasikan keuntungan untuk mendanai gereja, organisasi-organisasi Kristen dan badan-badan misi baik di dalam maupun di luar negeri
VIII. The Future – Mengenal tanda-tanda zaman
Bisnis dibangun bukan untuk satu hari namun untuk suatu jangka waktu yang panjang, dengan harapan dapat diwariskan dan berlanjut ke anak-cucu keturunan ketiga, keempat dan seterusnya. Hampir semua pendiri bisnis memimpikan hal tersebut
Namun yang harus menjadi catatan bagi kita orang percaya, yakni anak-anak Tuhan, kita perlu menyadari akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali karena itu merupakan nubuatan yang belum digenapi dari sekian banyak nubuatan yang telah digenapi oleh Tuhan Yesus. Dan hal ini disadari atau tidak disadari, akan berpengaruh terhadap bisnis atau pekerjaan kita.
Kita tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu kapan persisnya peristiwa itu akan terjadi, namun Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan akan ada satu masa dengan tanda-tanda yang jelas menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali:
“Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24: 3 – 14)
Dalam keadaan seperti yang digambarkan diatas dan sepertinya yang kita saksikan sekarang, maka dunia sedang berada dalam penghujung waktu. In the sunset. Kita sangat merasakan akselerasi dengan berbagai perubahan yang cepat dan dalam ketidak-pastian yang tinggi. Manusia berubah dalam perilakunya. Lebih egois, mementingkan diri sendiri dan semakin tidak memiliki perasaan malu.
Bagi kita anak-anak Tuhan, nubuatan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus lebih dari 2000 tahun yang lalu adalah sebuah pegangan yang baku dan didalamnya terkandung juga sebuah pesan kehati-hatian terutama dalam melakukan investasi jangka panjang. Namun sebaliknya kita juga melihat peluang yang besar dalam mengembangkan produk-produk agraris karena kebutuhan manusia akan pangan tak akan pernah berubah.
Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia maka semakin besar kebutuhan atas pangan. Namun ironisnya tanah yang dapat diolah untuk produk agraris justeru semakin berkurang karena terpakai untuk pemukiman penduduk. Belum lagi perubahan cuaca dan bencana alam sperti gempa bumi, banjir, topan dan badai akan menghambat produksi pangan.
EPILOG
Bisnis atau pekerjaan kita adalah sarana yang Tuhan berikan dan percayakan kepada kita dalam rangka memuliakan DIA dan mengemban Amanat Agung-Nya untuk menyelamatkan dunia. Kita menjadi teman sekerja Tuhan. Sukses bukanlah tujuan akhir dengan kita harus mengorbankan segala-galanya; diri kita, keluarga kita dan iman kita. Sukses adalah “by-product” dari kepatuhan kita kepada Tuhan; menerima dan menjalankan perintah-Nya dengan baik dan setia.
Bisnis dan pekerjaan kita adalah panggilan kita, sama halnya dengan seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk melaksanakan tugas penggembalaan sebuah jemaat gereja.
“Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti waktu ia dipanggil Allah.” (1 Korintus 7: 20)
“Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.” (1 Korintus 7: 24)
Sukses yang kita raih tidak semata-mata bersifat dan diukur dengan materi, lebih-lebih yang duniawi, namun sukses yang juga berdampak terhadap kekekalan baik bagi diri kita, keluarga kita dan orang lain kepada siapa, Tuhan taruh beban dalam hati kita.
“Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (Yohanes 2: 17)
Agar bisnis kita “fruitful” berbuah lebat, maka kita harus selalu melekat kepada Tuhan Yesus, Pokok Anggur yang Benar, bukan kepada manusia
“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 15: 1 – 8)
Setelah anda mengetahui apa yang harus diperbuat berdasarkan Firman Tuhan, sekarang tinggal anda melangkah dalam iman, karena yang berbahagia adalah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan, memelihara dan melakukan-Nya:
“Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. (Yakobus 1: 21 – 25)
SUKSES UNTUK ANDA! TUHAN YESUS MEMBERKATI.
Dr. Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM, CPC
HeavenSpring Consulting Co.
E-mail: ehardjo@gmail.com
Blog: http://heavenspring.wordpress.com
Mobile: +6281513203415
Recent Comments